Gratis Ongkir minimum Rp 200.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Kesehatan Bayi | Oct 26, 2017

6 Alasan Orang Tua Menolak Pemberian Vaksin untuk Anaknya

Bagikan


Adanya beragam informasi yang salah mengenai vaksin bayi memunculkan ketakutan dan kecemasan tersendiri pada kebanyakan orang tua.

Hal tersebut kemudian membuat para orang tua yang merasa cemas dan takut memilih untuk tidak mengizinkan dokter memberikan vaksin kepada anak-anak mereka. 

Baca Juga: Manfaat Vaksin untuk Bayi yang Perlu Mama Tahu

Beberapa alasan orang tua tidak memberikan vaksin ke bayi sebagaimana dikutip dari Parent, diantaranya seperti di bawah ini.

1. Ada banyak vaksin yang akan membanjiri sistem kekebalan tubuh bayi

Faktanya:

Orang tua yang lahir pada tahun 1970-an dan 80-an divaksinasi terhadap delapan vaksin yang mampu melawan 14 penyakit sekaligus. Sementara anak-anak sekarang mendapatkan vaksin lebih banyak karena setiap vaksin mampu melindungi hampir dua kali atau lebih penyakit. 

Yang terpenting bukanlah jumlah vaksinnya, tetapi apa yang terkandung di dalam setiap vaksin. Antigen merupakan komponen virus atau bakteri dari vaksin yang menginduksi sistem kekebalan tubuh untuk membangun antibodi sekaligus melawan infeksi di masa depan.

Mark H. Sawyer, M.D., profesor pediatri klinis di University of California San Diego School of Medicine and Rady Children’s Hospital menyatakan bahwa selama menjadi seorang spesialis penyakit menular, ia belum pernah melihat infeksi pada anak-anak setelah mereka memperoleh infeksi lengkap pada usia 2, 4, dan 6 bulan.

Baca Juga: Ini Lho 5 Vaksin Wajib untuk Bayi Mama

2. Sistem kekebalan tubuh anak belum matang, jadi lebih aman menunda pemberian vaksin beberapa waktu

Faktanya:

Dalam kasus MMR, menunda vaksin tiga bulan saja bisa meningkatkan resiko demam kejang. Bahkan hingga saat ini tidak ada bukti bahwamenunda pemberian vaksin lebih aman.

Jadwal vaksin yang direkomendasikan dirancang untuk memberikan perlindungan sebesar mungkin pada anak. Rekomendasi jadwal vaksin dibuat oleh puluhan ahli penyakit infeksi dan epidemiologi dari CDC, dokter dari universitas, rumah rumah sakit.

3. Vaksin mengandung racun, seperti alumunium, merkuri, formaldehyde, dan antibeku

Faktanya:

Vaksin sebagian besarnya berisi air dengan antigen, namun tetap membutuhkan bahan tambahan untuk menstabilkan atau meningkatkan efektivitas vaksin. Orang tua khawatir mengenai merkuri karena beberapa vaksin yang digunakan mengandung thimerosal pengawet, yang terurai menjadi etilmerkuri.

Saat ini para peneliti tahu bahwa etilmerkuri tidak menumpuk di methylmercury tubuh seperti neurotoxin yang ditemukan pada beberapa ikan. Namun, timerosal sudah dihapus dari semua vaksin bayi sejak tahun 2001 sebagai tindakan pencegahan.

Vaksin yang mengandung alumunium ini digunakan meningkatkan respon kekebalan tubuh, merangsang produksi antobodi lebih besar dan menjadikan vaksin lebih efektif.

Meskipun alumunium bisa menyebabkan kemerahan lebih besar atau bengkak pada tempat suntikan, jumlah kecil dari alumunium dalam vaksin kurang dari apa yang anak-anak dapatkan dari ASI, susu formula, atau sumber lainnya serta tidak memiliki efek jangka panjang dan telah digunakan pada beberapa vaksin sejak tahun 1930-an. 

Formaldehida, berguna untuk menonaktifkan potensi kontaminasi, mungkin juga pada beberapa vaksin, namun ratusan kali lebih kecil dibandingkan jumlah formaldehida yang manusia dapatkan dari sumber lain, seperti dari isolasi dan bahan buah. Tubuh manusia bahkan menghasilkan lebih banyak formaldehida secara alami dari apa yang ada di dalam vaksin, jelas Dr Halsey.

Sedangkan antibeku bukan hanya terdapat pada vaksin. Orang tua mungkin membingungkan nama kimia dari ethylene glycol dan propilen glikol, bahan yang digunakan dalam proses pembuatan vaksin (polietilena glikol tertoctylpheniyl eter tidak berbahaya).

Baca Juga: Waspada! Bayi Bisa Kena Herpes Karena Dicium Sembarang Orang

4. Vaksin tidak benar-benar bekerja, seperti halnya vaksin flu

Faktanya:

Sekitar 85 – 95 persen vaksin sangat efektif terhadap suatu penyakit. Tetapi vaksin flu memang sangat rumit. Setiap tahun, spesialis penyakit infeksi dari seluruh dunia bertemu dengan tujuan memprediksi strain yang cenderung beredar selama musim flu berikutnya.

Efektivitas vaksin tergantung pada strain. Penelitian menunjukkan bahwa vaksin mampu mengurangi risiko oleh sekitar 50 – 60 persen saat strain yang tepat dipilih.

Baca Juga: Mengapa Anak Perlu Imunisasi Ulang?

5. Vaksin adalah sumber uang bagi perusahaan farmasi dan dokter

Faktanya:

Meskipun wajar bagi perusahaan farmasi memperoleh keuntungan dari produk mereka, seperti produsen pada umumnya. Faktanya sudah ada ketetapan yang jelas dari pemerintah mengenai harga vaksin, termasuk keuntungan yang diambil produsen. Bahkan tidak jarang beberapa perusahaan farmasi menggunakan dana sendiri untuk melakukan penelitian seputar vaksin.

Baca juga: Kenali Gejala Tifus pada Anak Balita

6. Efek samping beberapa vaksin lebih buruk dari penyakit sebenarnya

Faktanya:

Sebelum vaksin baru disetujui, dibutuhkan waktu 10 – 15 tahun dan melewati empat fase pengujian keselamatan, serta efektivitas. Kemudian FDA mendalami data untuk memastikan vaksin aman. Dari sana, AAP, CDC, dan American Academy of Family Physicians memutuskan apakah akan merekomendasikannya.

Tidak ada perusahaan yang akan menginvestasikan uangnya dengan tujuan membuat vaksin yang bisa menyebabkan masalah kesehatan memburuk. Memang benar vaksin memberikan efek samping seperti demam, demam tinggi, dan kejang, meskipun jarang terdengar. Bahkan efek samping yang lebih serius lebih jarang terdengar. Sehingga alasan tidak memberikan vaksin seperti di atas adalah kesalahan besar.

Baca Juga: Bayi Baru Lahir Kena Hepatitis, Kok Bisa?

Setelah mengetahui beberapa alasan dan fakta seputar vaksin seperti di atas, apakah terpikir oleh Mama untuk membiarkan Si Kecil tidak vaksin di usianya saat ini?

(RGW)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.