DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Perilaku Anak | Jun 20, 2017

6 Gangguan Perilaku Pada Anak yang Tak Boleh Diabaikan

Bagikan


Semakin hari, tingkah laku si kecil semakin menggemaskan. Namun, beberapa sikapnya menjadi masalah tingkah laku yang terkadang tidak bisa Mama abaikan karena dianggap menyimpang. Beberapa gangguan perilaku anak yang tidak boleh Mama abaikan di antaranya:

  1. Memotong Pembicaraan Orang Lain

Setiap anak pasti ingin diperhatikan oleh kedua orang tuanya. Salah satunya adalah sikapnya yang memotong pembicaraan orang lain dengan alasan ada hal yang ingin anak tanyakan atau sampaikan kepada orang tuanya atau orang lain. Namun perilaku anak seperti ini jika dibiarkan terus-terusan tidaklah baik. Anak yang sering memotong pembicaraan akan merasa berhak  untuk selalu memperoleh perhatian. Akibatnya anak tidak bisa mengontrol emosi dengan baik serta sering frustrasi. Jika seperti itu, Mama harus segera mengambil sikap dengan mengajak anak berkomunikasi dan memberikan penjelasan bahwa perilaku tersebut tidaklah baik.

Baca juga: 7 Sopan Santun yang Perlu Dikuasai Anak

  1. Pura-Pura Tidak Mendengar

Anak sering bersikap pura-pura tidak mendengar jika Mama menyuruhnya untuk melakukan hal yang tidak ia suka. Perilaku ini sebenarnya dianggap tidak sopan karena tidak menghormati orang tuanya dan anak merasa seolah-olah dialah yang memegang kendali saat itu. Penyebab munculnya sikap ini bersumber dari orang tuanya sendiri, misalnya sikap Mama yang sering berteriak-teriak di dalam rumah. Mama dapat mengatasinya dengan berkomunikasi empat mata dengan anak dan saling mendengarkan apa yang dikeluhkan oleh anak.

  1. Berbuat Sesuka Hati

Mama tentu akan merasa senang jika anak bisa mandiri seperti saat mengambil makanannya sendiri. Tetapi jika anak melakukannya tanpa aturan tentu tidak baik. Sebagai orang tua, Mama harus punya aturan yang harus dipatuhi oleh anak sehingga dia tidak berbuat sesuka hati. Contohnya, saat pergi ke rumah temannya, tentu ia perlu izin pada orang tuanya. Jika Mama membiarkan sikap ini terus-menerus, anak akan bersikap terlalu bebas dan ini bisa berdampak negatif bagi anak.

  1. Kurang Beretika

Mama mungkin kaget melihat si kecil suatu hari membantah perintah Mama dengan gaya congkak memutar bola matanya. Sebenarnya, anak balita melakukan hal ini karena meniru anak yang lebih besar, untuk mengetes reaksi orangtuanya. Jangan abaikan karena mengira fase ini akan berlalu. Sebab, setelah agak besar nanti, ia bisa kesulitan mendapat teman sebaya maupun bergaul dengan orang dewasa. Tunjukkan pada si kecil bagaimana ia terlihat dengan sikapnya seperti itu. Misalnya: “Kalau kamu memutar bola mata seperti itu, kamu seakan-akan tidak suka apa yang Mama katakan.”. Kalau si kecil masih tak mengubah sikapnya, Mama bisa menolak berinteraksi dan pergi begitu saja. Katakan bahwa Mama tidak mau mendengar kalau ia berbicara dengan berteriak. “Kalau kamu bisa bicara baik-baik, baru Mama akan dengarkan.”

  1. Bermain Kasar

Bagi anak-anak, hal yang paling menyenangkan adalah bermain. Saat bermain, perhatikanlah sikap anak baik-baik. Apakah mereka agresif ketika bermain dengan temannya? Agresif di sini bisa berarti memukul teman bermainnya atau mendorong temannya dengan sengaja. Jika hal itu terjadi, segera tarik anak dan nasihatilah dia baik-baik bahwa apa yang dilakukannya itu salah. Cari tahu penyebab anak melakukan hal tersebut.

  1. Berbohong

Pernahkah anak Mama berbohong? Hal ini tentu mengganggu orang tua karena mereka tidak ingin anaknya tumbuh besar sebagai seorang pembohong. Biasanya hal ini dilakukan karena ada hal yang disembunyikan oleh anak. Ketika Mama mengetahui jika anak berbohong, jangan memarahinya secara langsung. Bicarakan secara baik dan perlahan-lahan. Butuh proses dan kesabaran untuk menghentikan perilaku ini.

Baca juga: Anak Suka Berbohong? Cari Tahu Alasannya

 

(PIA)

Bagikan

Artikel Terkait