DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Gaya Hidup | Feb 24, 2016

6 Masalah yang Sering Dialami Single Parent

Bagikan


Cerai hidup dan cerai mati menjadi penyebab paling umum seorang wanita menjadi orang tua tunggal (single parent atau single mom), meski bisa juga karena hamil di luar nikah atau karena pilihan (misalnya dengan mencari donor sperma atau adopsi). Karena tidak adanya sosok suami yang mencari nafkah, umumnya single mom merawat anak sekaligus bekerja full-time atau part-time untuk menunjang kebutuhan keluarganya. Hal ini tentu saja tidak mudah.

Sulit bersosialisasi

Makan-makan pulang kantor, arisan bersama teman, kencan, bahkan janji dengan dokter gigi rasanya kini jadi sulit ditepati. Sebagai orang tua tunggal, Anda dibutuhkan di rumah secara fisik dan emosional. Namun bukan berarti Anda harus menyendiri dan mengasihani diri sendiri. Anda hanya perlu merencanakan sebelumnya. Tetaplah berpikir positif.

 

Bekerja kurang optimal di kantor

Pagi-pagi, Anda harus menyiapkan pakaian dan sarapan anak, mengantarkan anak ke sekolah, kemudian menghadapi padatnya lalu lintas. Sampai ke kantor telat sudah sering, tapi pulang kantor selalu tepat waktu. Bagaimana lagi? Tidak ada pasangan yang bisa diajak gantian mengurus anak. Andapun terpaksa bekerja saat jam makan siang, bahkan melanjutkan tugas setelah si kecil tidur. Meski demikian, Anda perlu mengistirahatkan diri sesekali. Menonton drama Korea sambil makan es krim, mungkin?

 

Kencan? Apa bisa?

Bagus jika Anda sudah move on dari mantan suami. Ini saatnya Anda mencari pengganti yang lebih baik. Berkencan dan mengurus anak mungkin akan membuat Anda seperti berada di dunia berbeda: di satu sisi Anda diperhatikan, di sisi lain Anda memberi perhatian. Anda berhak, kok, sesekali ‘escape’ dari urusan rumah tangga untuk refreshing sebelum pulang dan kembali menjalankan tugas Anda sebagai ibu.

 

Sakit hati saat membicarakan mantan suami

Suatu saat si kecil pasti akan menanyakan ayahnya. Menurut psikolog anak, jawab saja dengan jujur dan cepat, lalu ganti topik pembicaraan. Jangan katakan hal negatif tentang ayahnya. Semakin besar anak, pertanyaannya akan semakin rumit. Rencanakanlah jawaban Anda sejak jauh-jauh hari. Wajar jika Anda merasa sedih, cemas, merasa bersalah, atau justru marah setelah pembicaraan yang rumit ini. Bagaimanapun juga, Anda harus tetap bersikap tenang di depan si buah hati.

 

Anda membutuhkan bantuan

Super mom kelihatannya bisa melakukan semuanya sendiri: bekerja, mengurus anak, mengatur rumah. Padahal sebenarnya hal ini tak realistis dan tak rasional. Mintalah bantuan, dan tak perlu malu menerima pertolongan. Jadi, jika ada anggota keluarga atau teman menawarkan menjaga anak Anda, katakan saja ‘ya’. Jangan lupa berterima kasih dengan menraktirnya atau gantian menjaga anaknya. Awalnya mungkin akan terasa sulit melepas kendali. Bagaimanapun juga, pada akhirnya, Anda akan senang bahwa ada orang-orang yang siap membantu Anda.

 

Anda jadi berpikir 1000 kali saat mengeluarkan uang

Sebanyak apapun pendapatan Anda, jika Anda single mom, Anda akan berpikir berkali-kali saat akan mengeluarkan uang. Selain kewajiban finansial terhadap si kecil, Anda juga perlu mempertimbangkan asuransi, biaya kesehatan, dan dana pendidikannya. Belum lagi pengeluaran ekstra lain, misalnya pesta ulang tahun, biaya rekreasi, atau daftar les. Memikirkan ini semua, Anda bisa jadi paranoid kalau kehilangan pekerjaan. Karena itu, sejak jauh-jauh hari, menabunglah.

  

Menjadi single parent memang menantang, namun juga rewarding. Dengan menunjukkan cinta dan bersikap positif, Anda bisa mengurangi stres sebagai orang tua tunggal sembari memastikan sang buah hati tetap tumbuh dengan baik.

Bagikan

Artikel Terkait