Gratis Ongkir minimum Rp 200.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Masalah Fertilitas | May 3, 2017

7 Mitos Seputar Infertilitas

Bagikan


Infertilitas adalah suatu kondisi yang kompleks dan sering disalahpahami oleh beberapa orang, sehingga timbul begitu banyak kebingungan dengan munculnya berbagai mitos infertilitas. Dr. Hadi Sjarbaini, Sp.OG memaparkan bahwa fertilitas bisa diartikan sebagai kemampuan istri untuk bisa hamil dan melahirkan bayi dari suami yang tentu saja mampu menghamilinya, sementara infertilitas boleh dibilang sebagai gangguan kesuburan.

Berikut adalah beberapa mitos infertilitas yang harus diperhatikan berikut uraian faktanya:

Mitos infertilitas #1: Hamil itu gampang!

Fakta: Meskipun benar bahwa banyak perempuan hamil tanpa kesulitan, namun banyak pasangan usia subur atau 1 dari setiap 10 pasangan memiliki masalah dengan infertilitas. Bahkan banyak pasangan sehat berusia kurang dari 35 tahun telah berusaha selama lebih dari 1 tahun tanpa hasil apapun meskipun sudah berkonsultasi dengan dokter. Berbagai kondisi kesehatan dan faktor tertentu, seperti usia, menjadi penyebab infertilitas yang dapat memengaruhi kemampuan perempuan untuk hamil.

Mitos infertilitas #2: Ini ‘masalah perempuan’

Fakta: Meskipun umumnya diyakini bahwa infertilitas hanya ‘masalah perempuan’, penelitian menemukan bahwa penyebab infertilitas diuraikan sebagai berikut: 40 persen adalah faktor perempuan, 40 persen adalah faktor laki-laki, 10 persen adalah gabungan dari faktor laki-laki dan perempuan, dan 10 persen adalah penyebab infertilitas yang tidak dapat dijelaskan.

Mitos infertilitas #3: Ini masalah psikologis, bukan fisik!

Fakta: Banyak teman dan kerabat mungkin menyarankan “jika kamu tidak terlalu memikirkan ini, kamu pasti akan hamil.” Namun kenyataannya, infertilitas adalah penyakit atau kondisi sistem reproduksi dan bukan gangguan psikologis. Bahkan, satu atau lebih penyebab infertilitas dalam masalah fisik teridentifikasi pada sejumlah besar pasangan infertil.

Mitos infertilitas #4: Saya bisa menunggu sampai usia 40

Fakta: Pertimbangan yang paling penting dan prediktor kesuksesan adalah usia wanita. Pada usia sekitar 35 tahun, kualitas dan kuantitas persediaan telur wanita akan mulai berkurang. Jika sel telur tidak dibuahi oleh sperma, menstruasi yang teratur akan terjadi. Meskipun banyak wanita menjalani gaya hidup sehat, namun pada akhirnya cara itu tidak menentukan kesuburan wanita pada usia 40 tahun lebih.

Mitos infertilitas #5: Ini tidak ada kaitannya dengan berat badan

Fakta: Selain usia, indeks massa tubuh (BMI) adalah salah satu faktor paling penting yang dapat memengaruhi kesuburan. Penelitian menunjukkan bahwa pria dan wanita yang kelebihan berat badan lebih berhasil hamil secara alami setelah menurunkan berat badan. Kelebihan berat badan atau obesitas dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi ibu dan bayi termasuk diabetes gestational dan komplikasi kehamilan serta risiko keguguran.

Mitos infertilitas #6: Pasangan yang infertil tidak akan pernah bahagia

Fakta: Meskipun normal bagi pasangan infertil mengalami berbagai emosi yang bergejolak, kebanyakan mereka berhasil melewati krisis ini dan secara bertahap memiliki perspektif yang lebih baik. Bagi beberapa pasangan, ini berarti mereka harus ikhlas melepaskan impian memiliki bayi. Pasangan lain memutuskan untuk mengadopsi anak. Tetapi dalam hal ini, banyak pasangan akan belajar menemukan kebahagiaan mereka sendiri – dengan atau tanpa anak-anak.

Mitos infertilitas #7: Mengadopsi bayi, akan cepat hamil!

Fakta: Mitos ini tidak hanya konyol namun juga sangat menyakitkan bagi para pasangan infertil. Pertama, adopsi hanyalah sebuah cara untuk mencapai tujuan (kehamilan), dan bukan solusi yang valid dan ajaib untuk membentuk sebuah keluarga. Kedua, hanya sekitar 5 persen dari pasangan yang mengadopsi anak kemudian menjadi hamil. Tingkat keberhasilan ini sama besarnya dengan pasangan yang tidak mengadopsi anak dan kemudian menjadi hamil tanpa perawatan kesuburan lebih lanjut.

Nah, Mama, masih percayakah berbagai mitos infertilitas tersebut?

(ROS)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.