DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




ASI & MPASI | Aug 7, 2017

7 Teknik Memperbanyak Jumlah ASI Perah

Bagikan


Hormon prolaktin dan hormon oksitosin (hormon yang berperan dalam proses pengeluaran ASI) sangat berperan dalam proses produksi ASI. Sebenarnya tidak ada cara memperbanyak ASI yang bisa dilakukan secara instan. Jika Mama mengonsumsi berbagai booster ASI agar produksi ASI banyak namun tidak sering mengosongkan payudara dengan memerah/menyusui, hasilnya akan sama saja.

Penting bagi Mama untuk mengetahui beberapa teknik memperbanyak ASI perah, terutama bagi Mama yang memilih menyusui si kecil menggunakan ASI perah (ASIP):

  1. Hindari Faktor Penghambat Hormon Prolaktin dan Oksitosin

Pastikan tidak ada hal-hal yang bisa menghambat hormon prolaktin dan oksitosin dalam proses produksi ASI, baik karena manajemen laktasi yang kurang baik (termasuk pengosongan payudara yang tidak baik), adanya penyakit atau kelainan anatomi payudara termasuk riwayat trauma pada payudara, konsumsi obat-obatan tertentu termasuk sejumlah metode kontrasepsi hormonal, atau juga stres, kelelahan, dan lain-lain.

  1. Persiapan Sebelum Mulai Memerah

Tidak hanya cukup dengan terus berlatih dan mencoba, persiapan juga menjadi hal yang sangat penting. Persiapan sebelum mulai memerah akan membantu sekaligus mempercepat terjadinya LDR (let down reflex) atau refleks pengeluaran ASI.

  1. Memijat dan Memerah Payudara Menggunakan Tangan/Secara Manual

Setelah selesai memerah menggunakan alat pompa, lanjutkan dengan memijat payudara Mama dan memerah menggunakan tangan dengan teknik yang baik. Dengan begitu, hasil ASI perah yang didapatkan jumlahnya bahkan bisa lebih banyak dari hasil perah menggunakan alat pompa. Jika Mama belum menguasai teknik perah tangan yang baik, mintalah bantuan konselor menyusui.

  1. Tandem Nursing Pumping

Tandem nursing pumping merupakan teknik menyusui dan memerah secara bersamaan meenggunakan alat pompa saat bersama bayi. Teknik ini mampu menstimulasi LDR pada kedua payudara. Selain itu, LDR bisa lebih dari satu kali sehingga payudara Mama bisa dikosongkan secara lebih optimal.

  1. Atur Frekuensi atau Jadwal Memerah

Usahakan saat Mama tidak bersama bayi selama 8-10 jam, memerah setidaknya dilakukan tiga kali saat tiba di kantor jika jarak antara rumah dan kantor jauh, saat istirahat siang, serta di sore hari atau sebelum pulang dari kantor. Sebaiknya Mama tidak melewatkan jadwal memerah, mengingat payudara yang tidak dikosongkan (disusui/diperah) dalam jangka waktu 5 jam atau lebih bisa menurunkan produksi ASI.

Selain itu, perlu Mama ketahui bahwa setiap sesi memerah (per payudara/ tandem) seperti halnya menyusui yang efektif, tidak dilakukan dalam waktu yang lama. Maksimal hanya selama 25 hingga 30 menit.

Jangan melewatkan waktu memerah dini hari saat kadar hormon prolaktin sangat tinggi (peak prolactin level pukul 02:00-04:00 dini hari).

  1. Hands On Pumping (HOP)

Teknik menekan atau memijat payudara saat sedang dipompa menggunakan alat ini bisa dilakukan pada satu payudara (1 tangan melakukan HOP dan tangan lainnya memegang alat pompa). Bisa juga dengan melakukan HOP langsung pada kedua payudara yang diperah secara bersamaan. Tentunya untuk melakukannya langsung pada dua payudara, Mama perlu mengenakan hands free pumping bra.

  1. Power Pumping

Ini merupakan teknik yang bisa digunakan untuk meningkatkan produksi ASI. Caranya dengan rutin memerah ASI selama 30 menit sekali setiap jam, selama dua kali 24 jam. Power pumping juga bisa dibarengi dengan mengonsumsi makanan atau minuman yang bisa meningkatkan produksi ASI.

Itulah beberapa teknik untuk memperbanyak ASI, terutama ASI perah. Namun, perlu diperhatikan bahwa Mama yang mengalami hiperlaktasi tidak disarankan menjalankan teknik-teknik di atas dan perlu mendapatkan bantuan penanganan untuk mengatasi hiperlaktasi.

(RGW)

Bagikan

Artikel Terkait