Gratis Ongkir minimum Rp 200.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Perilaku Anak | Nov 11, 2016

Apa yang Bisa Anak Pelajari dari Ayah?

Bagikan


Anak Anda mungkin menghabiskan hampir 24 jam waktunya bersama Anda, ibunya. Dan hanya sebagian kecil saja dari total waktunya yang ia habiskan bersama ayah. Tak heran jika anak jauh lebih dekat kepada ibu ketimbang ayah. Dan tak heran pula jika banyak nilai-nilai yang berasal dari sang ibulah yang kemudian dianut dan diadopsi oleh anak. Meski begitu, bukan berarti anak tak perlu belajar apapun dari ayah, lho. Karena posisi ayah setara dengan ibu, maka anakpun seharusnya belajar ‘sesuatu’ dari ayah, kan?

Selama ini, Anda mungkin berpikir jika suami Anda terlalu santai dalam mendidik anak. Ia tampak tak peduli pada pekerjaan rumah anak-anak, tak pernah resah ketika nilai ulangan anaknya jelek, dan sebagainya. Akui saja, banyak ibu yang kemudian berpikir bahwa ia harus menjadi sempurna karena anak-anak akan belajar dan mencontoh segala hal darinya. Ternyata tidak juga, lho.

Dalam dunia parenting, tidak ada istilah siapa lebih hebat atau lebih baik dalam membesarkan anak. Anda dan suami mungkin memiliki gaya asuh yang berbeda. Meski begitu, tak perlu berdebat dalam menghadapi perbedaan cara asuh ini, karena anak-anak tetap akan mendapatkan manfaat tersendiri dari perbedaan pola asuh kalian berdua.  

Jadi, tak perlu terburu-buru mengoreksi (apalagi menyalahkan) apa yang suami Anda lakukan pada anak. Cara asuh para orang tua pria ini memang tampaknya lebih santai dan terkesan cuek. Tapi, coba perhatikan deh, ada hal-hal yang ternyata bisa anak Anda pelajari dari para ayah ini, lho. Berikut di antaranya:

 

1. Anak belajar menjadi orang yang fleksibel

Jika para ibu cenderung akan panik ketika tas popok tertinggal di rumah saat berpergian, tidak begitu halnya dengan para ayah. Para ayah ini akan memilih untuk mampir ke minimarket untuk membeli berbagai keperluan seperti popok dan tisu basah alih-alih putar balik ke rumah untuk mengambil tas popok yang ketinggalan.

 

2. Jadi anak pemberani

Anda mungkin cemas ketika melihat anak terjatuh atau kotor saat bermain. Lain halnya dengan ayah. Bagi para ayah, terjatuh dan kotor akan membuat segala kegiatan menjadi lebih istimewa. Bergulat dan perang-perangan, itu adalah kegiatan yang mengasyikkan. Memanjat pohon atau bahkan gunung, itu tantangan yang harus ditaklukkan. Hal-hal seperti ini biasanya tidak diajarkan oleh para ibu, kan?

 

3. Ada rangkaian proses dan hasil yang harus terus dicoba (trial and error)

Kata siapa mengerjakan ujian itu tidak boleh salah? Kata ayah, boleh, kok, salah. Asalkan, kesalahan yang sama tidak akan diulangi lagi di ujian berikutnya. Asalkan, ada usaha perbaikan yang dilakukan setelah hasil ujian dibagikan. Berbuat salah bukan berarti akhir dari segalanya. Masih ada seribu satu rangkaian proses dan hasil yang bisa anak lakukan.

 

4. Tanggung jawab pada orang yang dicintai

Para ayah memiliki waktu terbatas untuk keluarga karena mereka harus mencari nafkah untuk keluarga. Inilah bentuk tanggung jawab ayah terhadap orang-orang yang disayanginya. Anak Anda akan melihat ini dari ayahnya, dan belajar bahwa salah satu tujuan hidup adalah membahagiakan dan bertanggung jawab kepada orang-orang yang disayanginya.

 

5. Tidak malu terlihat lemah

Ketika para ayah sering minta bantuan Anda untuk menyiapkan susu anak, memilih merek popok, dan sebagainya, bukan berarti mereka ‘payah’. Secara tak langsung, para ayah ini ‘mengakui’ bahwa hal-hal semacam ini bukanlah keahlian mereka, tapi memang keahlian para ibu. Merekapun tak pernah malu untuk terus bertanya meski Anda sudah berulang kali menjawabnya. Nah, berani kelihatan lemah, itulah salah satu sikap yang perlu dimiliki oleh anak. Dengan begitu, anak tak akan down saat tak menjadi nomor satu, dan tak jumawa ketika berada di atas.

(VAN)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.