DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Kesehatan Bayi | Jul 14, 2017

Bayi Lahir Besar, Apa Penyebab dan Risikonya?

Bagikan


Berat rata-rata bayi baru lahir sekitar 3,4 kg. Bayi dengan berat lebih dari 4 kg saat dilahirkan, dianggap bayi besar atau macrosomik. Jika si kecil lahir besar dengan berat 4,5 kg atau lebih, maka si kecil memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi. Meskipun banyak ibu yang melahirkan bayi besar tanpa masalah, biasanya tetap membutuhkan bantuan cukup serius.

Baca juga: Ini Cara Menambah Berat Bayi Dalam Kandungan

Bagaimana Mengetahui Kemungkinan Bayi Lahir Besar?

Sangat sulit menentukan apakah bayi akan lahir dengan macrosomik saat masih berada dalam kandungan. Hanya berat badan setelah dilahirkan yang bisa menegaskan hal ini. Dokter umum atau bidan bahkan mungkin menduga bayi akan lahir besar saat ditimbang. Dengan pemindaian ultrasound bisa memberikan gambaran seberapa besar bayi sebenarnya. Akan tetapi, proses ini tidak selalu akurat di masa kehamilan. Ada perbedaan sekitar 10% antara prediksi berat bayi dengan ultrasound dan berat sesungguhnya saat lahir.

Jika pemindaian menunjukkan adanya kemungkinan bayi lahir besar, bidan atau dokter kandungan mungkin memantau kadar gula darah Mama. Hal tersebut untuk memastikan apakah Mama memiliki risiko diabetes gestasional.

Penyebab Bayi Lahir Besar

Beberapa faktor penyebab bayi lahir besar antara lain:

  • Memiliki indeks massa tubuh (BMI) di awal masa kehamilan
  • Berat badan bertambah selama masa kehamilan
  • Bepergian lebih dari dua minggu melewati tanggal jatuh tempo
  • Berat badan naik drastis sebelum hamil atau tidak turun setelah kehamilan sebelumnya

Bahkan etinisitas dan hubungan seks berperan mempengaruhi bayi lahir besar. Selain itu, bayi laki-laki memiliki risiko lebih besar lahir besar dibandingkan bayi perempuan. Jika sebelumnya Mama pernah melahirkan bayi besar, maka kehamilan berikutnya juga cenderung memiliki bayi lahir besar.

Apa Risiko Bayi Besar Terhadap Proses Melahirkan?

Melakukan proses melahirkan vaginal untuk bayi lahir besar cukup sulit dilakukan. Dibutuhkan waktu yang sedikit lebih lama saat melahirkan. Umumnya komplikasi umum lainnya termasuk kehilangan darah parah setelah melahirkan.

Selain itu, bayi lahir di atas berat 4,5 kg juga memiliki kemungkinan mengalami distosia bahu di saat lahir. Risiko juga semakin meningkat jika bayi lahir dengan berat lebih dari 5 kg.

Proses melahirkan secara caesar bisa membantu mengurangi risiko yang muncul pada kelahiran bayi dengan berat di atas rata-rata. Jika bidan atau dokter kandungan menduga Mama mungkin akan melahirkan bayi besar dan merekomendasikan induksi atau operasi caesar, minta mereka untuk menjelaskan potensi risiko dibandingkan melahirkan secara vaginal. Termasuk juga untuk membahas mengenai harapan, ketahukan dan pilihan yang bisa membantu.

Baca juga: Induksi Dalam Proses Melahirkan

Pengaruh Lahir Besar Bagi Kesehatan Bayi

Sebagian bayi besar memiliki kesehatan yang baik-baik saja, kecuali jika dinyatakan menderita distosia bahu. Karena bayi lahir besar dengan distosia bahu kemungkinan mengalami berbagai masalah setelahnya. Jika bahu si kecil terjepit selama tahap dorongan, hal tersebut justru bisa menyebabkan kerusakan saraf pada bahu dan lengannya.

Kerusakan saraf terjadi pada 2%-16% bayi yang mengalami distosia bahu. Ini memang sangat mungkin terjadi jika bayi membutuhkan banyak bantuan saat dilahirkan atau berbobot sangat besar. Namun, hal tersebut juga bisa disebabkan tekanan kontraksi terlalu kuat. Jika si kecil mengalami kerusakan saraf, kemungkinan besar bisa pulih sepenuhnya. Jika tulang kerah bayi rusak saat lahir, juga masih bisa sembuh tanpa adanya masalah.

 

<RGW>

 

 

Bagikan

Artikel Terkait