Gratis Ongkir minimum Rp 200.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Kesehatan Bayi | Jun 14, 2017

Benarkah Empeng Dot Bisa Merusak Gigi Bayi?

Bagikan


Kebiasaan ngempeng atau menggunakan empeng pada anak kecil lumrah terjadi. Apalagi saat empeng biasa digunakan agar bayi atau balita berhentu menangis maupun sebatas iseng.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sigund Freud, tahap psikoseksual anak 0 hingga 2 tahun memasuki tahap oral. Tahap yang ditandai dengan kecenderungan dan kebiasaan anak memasukkan semua benda ang ditemukannya ke dalam mulut. Kebiasaan dan kecenderungan ini terjadi karena anak ingin mengenal dan merasakan benda baru yang ditemukannya. Benda yang baru dikenalnya tersebut akan masuk skema otaknya, kemudian membentuk akomodasi dan asimilasi.

Aktivitas oral batita akan lebih menitikberatkan dengan cara menggigit, menghisap jempol dan salah satunya ‘ngempeng’. Saat usianya menginjak 2 tahun, perkembangan tubuh batita akan lebih pesat. Dengan tumbuhnya gigi pada areal gusinya menyebabkan batita merasakan gatal.

Salah satu solusi untuk mengurangi rasa gatal yang muncul adalah dengan menggigit berbagai benda yang ditemukannya. Sebagian besar batita akan menjadi rewel saat tidak menemukan obyek yang bisa di gigit. Sehingga kebanyakan orang tua cenderung memilih memberikannya empeng demi memuaskan rasa ingin tahu buah hatinya. Terlebih anak memang menjadi lebih tenang setelah diberikan empeng.

Namun, apakah keberadaan empeng memang benar-benar dibutuhkan oleh si kecil? Apakah benar empeng menjadi salah satu penyebab kerusakan gigi bayi?

Baca Juga : Kapan Dot Bayi Harus Diganti Dengan yang Baru?

Risiko Gangguan Rahang dan Gigi Tonggos Akibat ‘Empeng’

Sebagaimana yang diutarakan oleh Prof drg Heriandi Sutadi, SpKGA(K), PhD dari RS Pondok Indah Jakarta kepada detikHealth, gerakan empeng yang ditarik kemudian ditekan secara terus menerus, tekanannya akan menyebabkan rahang atas maju.

Anak normalnya masih ‘ngempeng’ hingga usianya 2,5 tahun. Akan tetapi, jika lebih dari usia tersebut, menurut Prof Heriandi lebih baik dicegah sehingga giginya tidak tonggos. Meskipun memang terdapat faktor lain yang memicu gigi tonggos seperti faktor psikoogis dan kebiasaan buruk.

‘Ngempeng’ yang disebabkan karena anak sering rewel, bisa Mama atasi dengan memberikan perhatian lebih agar si kecil tidak lagi mudah dan sering rewel. Sebaliknya, ‘ngempeng’ yang disebabkan kebiasaan buruk, perlu dikonsultasikan dengan dokter gigi. Salah satunya kebiasaan tersebut bisa diatasi dengan pemasangan alat creed pada mulut.

Hentikan Kebiasaan ‘Ngempeng’ Anak Dengan Perban

Menurut Prof drg Armasastra Bahar, PhD, orang tua sebaiknya tidak mengizinkan anak untuk ‘ngempeng’. Dengan begitu, Mama perlu secara bertahap berusaha untuk mengurangi hingga menghilangkan kebiasaan si kecil yang suka ‘ngempeng’. Salah satu cara yang disarankan Prof drg Armasastra Bahar, PhD adalah dengan melarang anak pelan-pelan atau membungkus jari si kecil menggunakan perban sehingga saat dimasukkan ke mulut terasa tidak enak.

Kendati ada alat ortodentik dengan inovasi teknologi empeng yang tidak menyebabkan tonggos. Bentuknya juga bisa disesuaikan dengan bentuk rahang serta sudah banyak dijual di pasaran dan juga supermarket. Prof Arma menambahkan, empeng dengan bentuk dan inovasi apa pun tetap tidak direkomendasikan bagi anak.

Nah, jika di atas beberapa dokter gigi yang menyebutkan bahwa empeng tidak disarankan bagi bayi atau batita, bagaimana dengan Mama? Apakah Mama terbiasa membiarkan si kecil untuk ‘ngempeng’ agar tidak rewel atau justru tidak memberikannya empeng?

(RGW)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.