DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Keamanan Anak | Jun 2, 2017

Bolehkah Anak Punya Akun Media Sosial Sendiri?

Bagikan


 

Suka atau tidak, akan tiba saatnya anak ingin punya akun media sosial sendiri. Entah itu Facebook, Instagram atau Snapchat. Namun Mama sebagai orangtua pasti punya kecemasan sendiri bila anak mulai aktif bermain media sosial. Pasalnya, jika kurang berhati-hati media sosial bisa jadi sumber bullying, tindak kriminal, atau konsumerisme. Sebelum memutuskan apakah anak boleh punya akun media sosial sendiri, Mama lihat dulu beberapa pertimbangan ini.  

Baca juga: 5 Foto Anak yang Tidak Boleh Diupload di Sosial Media

Buat Apa Anak Kecil Punya Akun Media Sosial?

Banyak anak ingin punya akun media sosial sendiri karena teman-temannya sudah punya duluan. Karena ingin diterima dalam pergaulan, anak biasanya akan membuat media sosial. Selain itu, bagi anak, media sosial merupakan bentuk ekspresi dirinya. Anak bisa menunjukkan pada teman-teman media sosialnya soal bakat menari dan menggambar atau hobinya bermain sepak bola. Maka, sebenarnya media sosial tak selalu jadi pengaruh negatif dalam tumbuh kembang anak.

Sayangnya, anak yang main media sosial bisa jadi kecanduan. Si kecil jadi haus akan view, like, dan followers di akun media sosialnya. Belum lagi di usia yang belia, penindasan di dunia maya (cyberbullying) rentan terjadi. Apalagi di media sosial. Siapa saja bisa bersembunyi di balik layar smartphone masing-masing sembari menghina atau menyakiti orang lain.

Bolehkah Anak Punya Akun Media Sosial Sendiri?

Menurut seorang dokter anak dari Harvard School of Public Health, dr. Michael Rich, kebanyakan anak di bawah usia 13 tahun belum cukup dewasa untuk mempertimbangkan konsekuensi perbuatannya. Anak mungkin berpikir bahwa mengunggah lokasi beserta foto dirinya bersama teman-teman saat pergi ke mal itu keren. Padahal, mungkin saja ada orang yang menggunakan informasi lokasi dan foto si kecil untuk berbuat jahat.

Atau si kecil iseng mengunggah foto candid salah satu temannya hanya sebagai lelucon. Namun, foto tersebut bisa saja digunakan oleh teman-teman sekolahnya sebagai bahan ejekan. Si kecil tentu tidak bisa mengendalikan hal-hal tak diinginkan seperti ini.

Maka, dr. Michael Rich menyarankan Mama untuk menimbang-nimbang kedewasaan dan rasa tanggung jawab anak. Pasalnya, tidak ada patokan usia yang bisa jadi standar kesiapan seorang anak. Semua itu tergantung pada sifat anak dan seberapa banyak Mama terlibat dalam penggunaan media sosial anak. Kalau Mama merasa anak sudah cukup bijak dalam menyaring dan menyebarkan informasi, Mama bisa mengizinkan anak membuat akun media sosial.

Aturan Main Kalau Anak Punya Media Sosial

Apabila akhirnya Mama menyetujui anak untuk memiliki media sosial, bukan berarti anak bebas memakai media sesial tersebut sembarangan. Sebagai perlindungan, Mama harus menerapkan aturan-aturan supaya anak bisa main media sosial dengan aman. Misalnya memasang mode private untuk media soialnya, anak tidak boleh mengunggah foto, video, tulisan, atau lokasi bila Mama belum memberikan persetujuan. Mama juga sebaiknya selalu memantau teman-teman di dalam media sosial anak. Perhatikan kalau ada orang yang mencurigakan atau tidak sepantaran anak. Selalu ingatkan anak untuk tidak menyebarkan informasi pribadi seperti nomor handphone, alamat rumah, atau alamat sekolah.

Itu dia pertimbangannya sebelum mengizinkan anak punya akun media sosial sendiri. Bagaimana, apakah buah hati Mama sudah siap punya media sosial?

<IA>

 

Bagikan

Artikel Terkait