DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Perkembangan Anak | Feb 2, 2017

Dampak Buruk Memukul Bokong untuk Menghukum Anak

Bagikan


 

Zaman dahulu, menghukum anak yang tidak patuh dengan kekerasan fisik dianggap sebagai hal yang lumrah. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, memukul anak atau menghukum dengan kekerasan sudah menjadi suatu hal yang patut dihindari.

Bahkan, Perancis baru-baru ini mengeluarkan undang-undang yang melarang orangtua menghukum anaknya dengan kekerasan fisik. Kekerasan fisik yang dimaksud sangat luas cakupannya, mulai dari memukul, menampar, atau memukuli bokong anak.  

Kebijakan pemerintah Perancis ini dinilai sebagai suatu kemajuan dalam upaya menghentikan kekerasan terhadap anak. Harapannya orangtua akan mencari cara lain yang lebih manusiawi dalam mendidik anak-anaknya. Namun, benarkah hukuman dengan kekerasan benar-benar memberikan dampak buruk buat anak? Cari tahu jawabannya, yuk.

 

Anak Tidak Jera

Menurut seorang pakar psikologi, Sandra Graham-Bermann, anak yang dihukum dengan kekerasan tidak akan merasa jera. Ia memang akan merasa ketakutan ketika dipukuli atau dihukum. Namun, anak tetap tidak bisa memahami mengapa perbuatannya salah. Di masa depan pun anak akan melakukan kenakalan yang sama.

 

Masalah Emosional dan Perilaku

Anak yang biasa dihukum dengan kekerasan fisik cenderung tumbuh menjadi orang yang kasar dan agresif. Ini karena anak melihat kekerasan dan hukuman keras adalah satu-satunya cara untuk meluruskan suatu masalah atau untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Pada banyak kasus, anak juga menunjukkan perilaku pemberontak.

  

Trauma Masa Kecil

Jika anak mendapatkan hukuman yang cukup parah dari orangtuanya, anak bisa tumbuh dengan trauma masa kecil. Akibatnya, saat beranjak dewasa anak kesulitan membangun relasi yang positif dengan orang lain. Hal ini disebabkan oleh rasa takut dan terancam, bahkan ketika berhubungan dengan orang-orang terdekatnya. Anak tumbuh dengan pikiran bahwa orangtua yang seharusnya melindunginya bisa menyakitinya, apalagi orang asing.

  

Mama bisa kok mendidik anak tanpa harus menggunakan kekerasan. Ingat, ketegasan itu tidak identik dengan hukuman fisik. Jadi, ketika anak sudah sangat keterlaluan dan Mama sudah tidak bisa menahan emosi lagi, ambil jeda dulu. Suruh anak masuk ke kamarnya dan berpikir soal perbuatannya, sementara Mama bisa melakukan hal lain untuk menenangkan diri. Tanpa dipukuli atau dihukum, anak bakal bersikap lebih terbuka dan mau mendengarkan omongan Mama.

Daripada memukul bokong anak ketika ia berbuat onar, lebih Mama jelaskan apa saja konsekuensi dari tindakannya tersebut. Bantulah anak untuk memahami mengapa perbuatannya tidak bisa diterima. 

 

Bagaimana, Mama? Apakah masih mau menggunakan kekerasan fisik pada anak atau ingin mencoba cara lain yang lebih lembut tapi efektif?

 

(IA)

Bagikan

Artikel Terkait