Gratis Ongkir minimum Rp 200.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Perilaku Balita | Sep 20, 2017

Hati-Hati, Balita Menangis Terlalu Lama Bisa Merusak Otak!

Bagikan


Menangis merupakan bagian yang tidak akan lepas dari balita. Balita yang menangis menandakan sebuah komunikasi antara si kecil dan Mama. Misalkan saja, saat dia haus ingin minum susu maka dia minta hal tersebut lewat tangisan. Atau saat balita tidak menyukai sesuatu, dia juga bisa menyampaikannya lewat tangisan.

Memang balita menangis terlihat wajar, namun siapa sangka jika balita menangis terlalu lama dapat merusak otak. Kok bisa?

Menurut dr.Penelope Leach dalam The Essential First Year-What Babies Need Parents to Know. Dr Leach mengungkapkan bahwa dari hasil riset didapatkan kesimpulan bahwa balita yang menangis dalam waktu lama dapat mengganggu pembentukan otak hingga menimbulkan kesulitan bagi balita tersebut dalam belajar di masa hidupnya. Jadi peneliti menyarankan agar Mama tidak membiarkan balitanya menangis terlalu lama. Hal ini disebabkan risiko yang besar dalam merusak otak.

Menurut Dr Leach, balita yang terlalu lama menangis mengakibatkan terjadinya peningkatan produksi 'hormon stres' yaitu kortisol. Semakin panjang periode balita menangis, semakin banyak kortisol yang merusak fungsi pengendali di otak bayi. Dampaknya, otak balita yang masih dalam masa perkembangan tidak mampu berkembang secara optimal. Hal inilah yang dapat meracuni otak hingga menyebabkan kerusakan.

Baca Juga : Stop Bilang "Jangan Menangis" Kepada Anak

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa menangis merupakan salah satu cara balita memberikan sinyal ketika dia merasa tidak nyaman atau tertekan. Jika terdengar semakin keras menandakan bahwa balita sedang stres. Akibatnya timbul reaksi hormonal berantai yang merangsang kelenjar adrenalin melepaskan hormon stres. Hormon stres yang terlalu banyak dapat merusak otak.

Penelitian dari Yale University dan Harvard Medical School, kerusakan yang terjadi pada jaringan otak dapat berakibat pada bahaya yang lebih tinggi seperti ADHD. Tidak hanya itu, efek dalam jangka panjang, anak akan mengalami perkembangan akademis yang buruk dan bahkan kecenderungan membuat anak malah bersikap anti sosial.

Namun bukan berarti balita tidak boleh menangis sama sekali. Menangis merupakan hal wajar pada saat masa bayi hingga balita. Oleh karena itu, Mama tidak perlu khawatir ataupun takut jika sikecil menangis. Namun, hal yang patut diperhatikan agar jangan membiarkan balita menangis terlalu lama misalkan saja sampai berjam-jam tidak berhenti. Menangis tidaklah buruk untuk balita, tetapi ketika dia menangis namun tidak mendapatkan respon itulah yang membuat menangis merusak otak.

(PIA)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.