DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Anak | Jul 20, 2016

Kapan Saat Tepat Bicara Tentang Sex Pada Anak?

Bagikan


Selama liburan lebaran kemarin, saya punya banyak waktu luang untuk jalan-jalan dengan anak-anak. Karena anak saya empat, maka selalu saya coba sisihkan waktu untuk jalan-jalan berdua saja --- maksudnya bergiliran dengan satu demi satu anak --- supaya mereka punya moment khusus dengan emaknya. Nah, saat itu Jade anak kedua saya bertanya: “Mima, awkward nggak ngomongin soal seks dengan anak sendiri?”

Saya sih menjawab enteng saja. “Nggak lah, dari kecil pun Mima kan terbuka bicara sama kalian.” Jade kelihatannya lupa, atau mungkin tak sadar kalau ibunya sejak kecil sudah menjelaskan persoalan sensitif ini dengan cara yang pas dengan usianya. Saya bukan ibu yang langsung pintar juga sih menjelaskan tentang seks pada anak. Malah sempat pontang-panting mencari referensi ke sana-sini, karena informasi lewat online masih minim di jaman saya menjadi orangtua muda.

Singkatnya, anak-anak pada usia sekolah biasanya mulai tertarik untuk memerhatikan teman-teman di sekeliling mereka. Ada anak yang merasa tertarik pada teman lawan jenisnya ada juga yang masih polos. Papa dan mama ingat ya…tidak semua anak mengalami perkembangan yang sama.  Tak semua anak bereaksi sama ketika Anda memberikan jawaban atas pert

Jika itu terjadi, coba jelaskan dengan jelas tetapi menggunakan bahasa sederhana. Kalau reaksi dia seperti bingung atau berteriak “Iiiiiiih…” itu artinya dia belum siap untuk menerima lebih banyak detil soal sex education. Bottom line-nya, kebanyakan anak di bawah usia 8 tahun belum bisa, atau belum perlu Anda jelaskan soal menstruasi, ereksi, melahirkan dan sebagainya karena itu bisa menakuti mereka. Nah, di bawah ini saya akan sharing beberapa tip yang saya praktikkan sewaktu anak-anak masih kecil dulu.

  • Kalem dan rileks: Jangan tegang, informasi sensitif ini harus disampaikan oleh Anda dengan hati yang tenang. Terlihat kikuk, gugup atau bahkan terbata-bata hanya akan membuat informasi tak sampai sesuai keinginan.
  • Buat pengandaian yang logis: Hindari berbohong seperti adik bayi datang diantar oleh burung bangau. Pilih analogi yang masuk di akal. Ketika Reggie anak laki-laki saya satu-satunya bertanya soal kenapa mama pakai diapers (maksudnya pembalut wanita), saya gunakan analogi mobil (karena Reggie suka mobil) yang harus diganti olinya agar kinerjanya bagus. Rahim mama harus dibersihkan setiap bulan, supaya tetap sehat.”
  • Dengarkan baik-baik: Menghujaninya dengan petuah macam-macam gara-gara Anda kikuk mendengarkan pertanyaannya tak akan menyelesaikan masalah. Atau bisa jadi ketika dia bertanya: “Bunda darimana asalku...” dan Anda sudah siap memberi penjelasan ala guru Biologi, ternyata arah pertanyaannya berbeda: “Maksudnya asalku dari mana? Kata Joko dia asalnya dari Jogja!”
  • Detil sesuai usia: Untuk anak-anak yang sudah SD, pertanyaan soal darimana asal bayi bisa dijelaskan dengan detil, tanpa harus membicarakan hubungan seks secara mendetil. Bingung? Intinya begini, jelaskan soal sel telur dan sperma, bagaimana sperma bisa membuahi sel telur dan sebagainya. Pakar menganjurkan Anda tidak menggunakan nama-nama lucu untuk organ genitalnya. Katakan penis dan vagina, bukan burung, atau dompet, weewee atau doodoo, dan sebagainya. Dengan begitu anak tahu pembicaraan tentang seks bukan hal yang tabu.
  • Cari tahu bersama-sama: Jika Anda tak punya jawaban yang pas, tak ada salahnya mengajaknya mencari jawaban bersama-sama, di internet atau buku referensi.

Memulai karier sejak tahun 1995 di sebuah grup media ternama di Jakarta, Pangesti 'Chichi' Bernardus konsisten berada di jalur editorial sampai saat ini. Kini dia dipercaya untuk memimpin sebuah majalah bergenre kesehatan, Women's Health dan Men's Health Indonesia. Selain berkecimpung di media, Chichi yang biasa dipanggil Mima oleh keempat anaknya, Bongbong, Kitkit, Lala, dan Meimei juga seorang yogi dan entrepreneur di bidang craft. Chichi adalah pemilik usaha kerajinan Monster bag bernama OMB (Ojo Medheni Bocah) dan Siotjia Djawa --- Chinoiserie by Chichi Bernardus. Oh ya, satu lagi, wanita yang memiliki kediaman di Lenteng Agung ini juga seseorang yang concern dengan aromaterapi. Get updates from Mima Chichi here.

Bagikan

Artikel Terkait