DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Kesehatan Bayi | Aug 30, 2017

Manfaat Tes Glukosa Pada Bayi Baru Lahir

Bagikan


Apakah Mama pernah mendapatkan penjelasan mengenai tes glukosa pada bayi? Mungkin saat pertama kali Mama mendengar mengenai tes glukosa yang dilakukan terhadap bayi baru lahir, langsung bertanya-tanya. Apa manfaatnya? Mengapa harus dilakukan? Apakah bayi baru lahir juga bisa mengalami hipoglikemia?

 

Hipoglikemia Pada Bayi Baru Lahir

Kadar gula darah (glukosa), merupakan sumber kalori utama selama kehidupan janin di dalam rahim. Glukosa juga sangat penting dalam proses persalinan hingga hari-hari pertama setelah kelahiran bayi.

Menurut dr. Akira Prayudijanto Sp.A. dari Kelompok Kerja Perinatologi, Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, Jakarta, kadar gula darah janin sekitar dua pertiga glukosa Mama. 

Saat persalinan, akibat terputusnya hubungan plasenta dengan janin, pemberian glukosa Mama ke bayi juga ikut terhenti. Bayi normal yang tepat lahir bisa mempertahankan glukosa sekitar 50-60 mg/dl selama 72 jam pertama.

Sementara bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) dalam kadar 45 mg/dl jika kadarnya kurang dari 45 mg/dl, bayi sudah masuk ke dalam kategori hipoglikemia neonatal atau hipoglikemia yang terjadi pada bayi baru lahir akibat dari kondisi glukosanya berada di bawah angka normal. 

Menurut laporan WHO yang dimuat melalui situsnya, frekuensi keseluruhan hipoglikemia pada negara-negara berkembang yakni 2-3 dari 1000 kelahiran hidup. Dari frekuensi tersebut, angka terbanyak ditemukan pada bayi yang lahir dengan berat badan rendah.

 

Penanganan Terhadap Hipoglikemia

Hipoglikemia bisa ditangani selama dilakukan dengan cepat. Oleh karena itu, tes glukosa yang dilakukan saat bayi baru lahir dan pemantauan setelahnya merupakan cara yang terbaik untuk menghilangkan dampaknya.

Hal tersebut dilakukan karena bayi yang mengalami hipoglikemia, jika tidak ditangani dengan segera bisa mengalami kerusakan sel otak secara permanen. Tentu kerusakan sel otak bisa mengakibatkan kejang hingga berisiko kecacatan permanen. Risiko yang paling berbahaya dalam kondisi ini adalah berujung pada kematian.

Pemantauan ketat tepat sesaat setelah proses persalinan sangat penting dilakukan, mengingat di saat persalinan kadar insulin pada bayi cukup tinggi. Sebagian kondisi tersebut disebabkan karena bayi terekspos dengan kadar gula tinggi selama masa kehamilan.

Kadar insulin yang tinggi pada bayi tersebut bukan hanya menurunkan kadar gula darahnya, akan tetapi juga akan menghalangi tubuh bayi membentuk keton, asam lemak bebas dan asam laktat. Oleh karena itu, bayi harus dipantau serta kemungkinan membutuhkan infus glukosa untuk mempertahankan kadar gula darahnya.

Tindakan yang lebih penting lagi yakni harus sesegera mungkin dilakukan inisisasi menyusu dini (IMD). Pemberian ASI sejak dini membantu memenuhi kebutuhan nutrisi serta metabolik bayi baru lahir.

Selain itu, kolostrum yang terdapat di dalam ASI pada hari-hari awal kehidupan bayi sangat baik dalam mencegah sekaligus mengatasi kadar gula darah rendah atau hipoglikemia.

Selain dari tes glukosa, pemantauan kadar gula darah dan Inisiasi Menyusu Dini, kontak kulit juga sangat penting dilakukan dalam mencegah hipoglikemia neonatal.

Penetilian menunjukkan bahwa bayi yang berada dalam dekapan kehangatan kulit Mama yang terjadi selama IMD bisa menjaga kadar gula darah, bahkan membantu meningkatkannya, dibandingkan pada saat bayi dipisahkan dari Mama. Bayi dengan risiko hipoglikemia akan terus dipantau kadar glukosanya hingga Mama diperbolehkan untuk membawa si kecil pulang.

 

Wah, ternyata sangat besar dan penting manfaat tes glukosa bagi si kecil ya, Ma?

(RGW)

Bagikan

Artikel Terkait