Gratis Ongkir minimum Rp 200.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Perilaku Balita | May 3, 2017

Tepatkah Pemberian Pendidikan Seks Untuk Anak?

Bagikan


Kemajuan teknologi membuat anak semakin mahir menggunakan perangkat digital. Bahkan, bisa jadi anak lebih pandai memakainya dibanding orang tuanya sendiri. Memang ada sisi positif dari hal ini, namun kita perlu mencermati sisi negatifnya. Lewat internet, anak bisa terpapar konten seksual yang tidak sesuai dengan usianya. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk mengajarkan pendidikan seks untuk anak dengan cara yang benar. Namun, apakah tepat mengajarkan pendidikan seks sejak dini untuk anak Anda?

Menurut  Aurora L. Toruan, psikolog dari Keara Konsultan Psikologi Cawang Jakarta, pengenalan seksual bisa diajarkan sejak dini. Penelitian lain menyebutkan bahwa informasi tentang seks dan perilakunya yang 10 tahun lalu diketahui anak 16 tahun, sekarang harus disampaikan pada anak usia 10 tahun. Jadi, misalnya 10 tahun lalu anak mengetahui tentang masturbasi saat berusia 15 tahun, maka sekarang pengetahuan tersebut harus diberikan sejak anak berusia 9 tahun. Hal ini mempertimbangkan kemajuan teknologi yang membuat segala informasi dengan mudah didapatkan. 

Bagaimana dengan balita? Apakah tepat diajari pendidikan seks di usia tersebut? Sebuah penelitian yang dimuat di situs Mayoclinic mengungkapkan bahwa pengenalan seksual dimulai jika balita mulai penasaran dengan tubuhnya sendiri. Di sinilah Mama bisa mulai mengajarkannya pelan-pelan.

Ini cara memberikan pendidikan seks sejak dini untuk anak usia balita:

1. Eksplorasi Dini

Saat balita mulai bisa berjalan dan berbicara, dia mulai melakukan eksplorasi pada tubuhnya. Di sinilah peran Mama untuk mulai mengenalkan dan mengajarkan bagian-bagian tubuh si kecil, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki beserta fungsinya, termasuk juga alat vital. Mama dapat mengenalkannya saat si kecil mandi. Di saat pengenalan tersebut, Mama juga harus memberitahu bahwa alat vital sangat penting bagi tubuh dan harus dijaga kebersihannya. Jika anak mulai memasuki masa otonomi, yakni masa dia mulai mengetahui dirinya sendiri dan tidak selalu mau diarahkan oleh orangtuanya, maka si kecil akan mengenal perbedaan gender. Mama dapat mengajarkan anak mengenal identitas dirinya sesuai gender lewat pakaian yang dikenakan. Dengan begitu, anak tidak akan kebingungan  mengenal identitas seksual sejak dini.

2. Rangsangan Usia Dini

Jika Mama melihat si kecil mulai memegang alat vitalnya seperti anak laki-laki yang suka memegang atau menarik penisnya atau anak perempuan yang suka memegang organ kewanitaannya, maka Mama harus bersikap cepat dan memberikan nasihat yang membuat si kecil mengerti bahwa hal itu tidak baik.

3. Belajar Setiap Hari

Mengajarkan anak tentang seks tidak perlu selalu serius dan satu kali saja. Pendidikan seks merupakan pengajaran terus menerus hingga anak benar-benar mengerti. Mama dapat menerapkan pendidikan yang menarik namun tetap bisa dimengerti oleh si kecil. Menurut Aurora, pendidikan seksual hendaknya disampaikan dengan gaya pengasuhan autoritatif di mana Mama membuka jalur komunikasi sehingga anak bertanya dan menjawab pertanyaan sesuai yang Mama harapkan.

Sudahkah Mama mengajarkan seks sejak dini kepada anak? Bagaimana caranya? Ceritakan pengalaman Anda di kolom komentar, ya.

(PIA)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.