DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Waspadai Ciri-ciri Preeklamsia pada Ibu Hamil

Bagikan


   

Keracunan kehamilan adalah istilah yang tadinya digunakan untuk menyebut preeklampsia dan eklampsia. Kondisi ini dialami oleh sebagian besar ibu hamil, bersalin, dan dalam masa nifas, dan biasanya dimulai pada sekitar dua bulan kehamilan. Sejauh ini berbagai penelitian belum menemukan penyebab preeklampsia secara pasti dan gejalanya sering kali juga tidak terasa. Bahayanya, kondisi ini lebih berisiko terjadi pada sebagian ibu hamil.

  

Pengertian Preeklamsia

Keracunan kehamilan (preeklampsia dan eklampsia) adalah suatu kondisi yang berpotensi berbahaya dan dapat berkembang dengan sendirinya pada wanita hamil. Keracunan kehamilan terdiri dari tiga tanda:

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Protein urine (proteinuria)
  • Pembengkakan cairan dalam tubuh (edema)

Preeklamsia sering kali disertai komplikasi kehamilan dan tanda-tanda kerusakan pada sistem organ lain. Preeklamsia biasanya berkembang setelah 20 minggu (trimester kedua) kehamilan, dimana justru pada ibu hamil dengan tekanan darah telah normal. Terkadang beberapa dari mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan vaskular atau hipertensi sebelumnya. Bahkan sedikit saja kenaikan tekanan darah pada ibu hamil bisa menjadi salah satu ciri-ciri preeklamsia.

Jika tidak diobati, preeklampsia dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan fatal selama kehamilan. Jika Mama didiagnosis dengan preeklamsia terlalu dini, sebaiknya hindari risiko tersebut dengan tindakan pencegahan sebagaimana mestinya.

  

Ciri-Ciri Preeklamsia

Preeklamsia kadang-kadang berkembang tanpa gejala apa pun. Tekanan darah tinggi pada ibu hamil dapat berkembang secara perlahan, namun lebih sering mendadak. Pemantauan tekanan darah adalah bagian penting dari perawatan prenatal. Nah, Mama sebaiknya perlu waspada, sebab tekanan darah tinggi pada ibu hamil umumnya adalah tanda pertama dari preeklamsia.

Ciri-ciri preeklamsia lainnya termasuk:

  • Kelebihan protein urine pada ibu hamil (proteinuria) atau tanda-tanda lain masalah ginjal
  • Sakit kepala parah
  • Gangguan penglihatan, termasuk melemahnya daya penglihatan sementara, penglihatan kabur atau sensitivitas cahaya
  • Nyeri perut bagian atas, biasanya di bawah tulang rusuk di sisi kanan
  • Mual atau muntah
  • Pengeluaran urine menurun
  • Penurunan kadar trombosit dalam darah (trombositopenia)
  • Gangguan fungsi hati
  • Sesak napas, yang disebabkan oleh cairan dalam paru-paru
  • Kenaikan berat badan secara tiba-tiba dan pembengkakan (edema) khususnya di wajah dan tangan sering kali menyertai preeklampsia. Tapi ciri ini juga terjadi pada kebanyakan kehamilan normal, sehingga tidak bisa dianggap gejala utama preeklamsia.

   

Penyebab Preeklampsia

Meskipun penyebab preeklamsia belum diketahui secara pasti, para ahli percaya kondisi ini dimulai pada plasenta, yaitu organ yang memelihara janin selama kehamilan. Pada awal kehamilan, pembuluh darah baru berkembang dan berevolusi secara efisien mengirimkan darah ke plasenta. Pada wanita dengan preeklamsia, pembuluh darah ini tampaknya tidak berkembang dengan baik. Pembulh darah ini lebih sempit daripada pembuluh darah normal dan bereaksi berbeda terhadap sinyal hormonal, yang membatasi jumlah darah yang dapat mengalir melaluinya.

Penyebab preeklampsia ini dapat mencakup perkembangan abnormal:

  • Aliran darah ke rahim
  • Kerusakan pada pembuluh darah
  • Masalah pada sistem kekebalan tubuh
  • Faktor genetika

 

Faktor Risiko Preeklamsia

Preeklamsia berkembang hanya sebagai komplikasi kehamilan. Faktor risiko yang dapat memicu preeklamsia tersebut meliputi:

  • Riwayat preeklamsia. Riwayat pribadi atau keluarga yang pernah menderita preeklamsia secara signifikan dapat semakin memicu risiko preeklamsia.
  • Kehamilan pertama. Risiko preeklamsia semakin meningkat pada ibu yang baru pertama kali hamil.
  • Ayah baru. Setiap kehamilan dengan pasangan baru meningkatkan risiko preeklamsia dibanding kehamilan kedua atau ketiga dengan pasangan yang sama.
  • Usia. Risiko preeklampsia akan lebih tinggi pada wanita hamil dengan usia lebih dari 40 tahun.
  • Obesitas. Risiko preeklampsia lebih tinggi jika tubuh Mama gemuk.
  • Kehamilan kembar. Preeklamsia lebih sering terjadi pada wanita yang sedang mengandung bayi kembar, kembar tiga atau lainnya.
  • Interval antara kehamilan. Kehamilan dengan jarak kurang dari dua tahun atau lebih dari 10 tahun meningkatkan risiko preeklamsia.
  • Riwayat kondisi tertentu. Misalnya seperti tekanan darah tinggi kronis, sakit kepala migrain, diabetes tipe 1 atau tipe 2, penyakit ginjal, kecenderungan pembekuan darah, atau lupus, semuanya dapat meningkatkan risiko preeklamsia.

 

Komplikasi preeklampsia

Komplikasi preeklampsia termasuk di antaranya:

  • Kurangnya aliran darah ke plasenta. Preeklamsia memengaruhi aliran darah ke plasenta. Jika plasenta tidak mendapatkan darah yang cukup, janin dapat kekurangan oksigen dan mendapat sedikit nutrisi. Akibatnya pertumbuhan janin menjadi lambat, berat badan lahir rendah atau kelahiran prematur.
  • Erupsi plasenta. Preeklamsia meningkatkan risiko erupsi plasenta, yaitu plasenta terlepas dari dinding dalam rahim sebelum persalinan. Erupsi yang parah dapat menyebabkan perdarahan berat dan kerusakan pada plasenta, yang dapat mengancam jiwa ibu hamil dan bayinya.
  • Sindrom HELLP (Haemolysis – Elevated Liver enzymes – Low platelet count), singkatan dari hemolisis atau penghancuran sel darah merah, peningkatan enzim hati dan jumlah trombosit rendah, yang mengancam jiwa ibu hamil dan calon bayinya. Gejala sindrom ini termasuk mual dan muntah, sakit kepala, dan nyeri perut kanan atas. Sindrom HELLP sangat berbahaya karena memincu kerusakan beberapa sistem organ.
  • Eklamsia. Apabila preeklamsia tidak terkontrol, bisa memicu eklampsia yaitu kondisi preeklampsia ditambah kejang-kejang atau kontraksi otot pada ibu hamil. Gejala yang mengarah pada eklampsia termasuk nyeri kanan atas perut, sakit kepala parah, gangguan penglihatan dan perubahan kondisi mental.
  • Penyakit kardiovaskular. Preeklampsia dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) di kemudian hari. Risiko akan lebih besar jika Mama pernah mengalami preeklamsia lebih dari sekali atau memiliki kelahiran prematur sebelumnya.

 

Tes & Diagnosis Preeklampsia

Jika dokter mencurigai adanya indikasi preeklampsia, Mama mungkin perlu menjalani tes tertentu, seperti:

  • Tes darah. Tes ini dapat menentukan seberapa baik fungsi hati dan ginjal dan apakah darah Mama memiliki jumlah trombosit (sel yang membantu pembekuan darah) yang normal.
  • Analisa urine. Analisis ini mengukur rasio protein dan kreatinin (kandungan kimia yang ada dalam urine). Sampel urin yang diambil lebih dari 24 jam dapat menentukan berapa banyak protein yang hilang dalam urine, indikasi tingkat keparahan preeklampsia.
  • USG janin. Dokter mungkin juga merekomendasikan pemantauan ketat pertumbuhan bayi, biasanya melalui USG untuk memeriksa berat badan janin dan jumlah cairan dalam rahim (cairan ketuban).
  • Nonstress test atau profil biofisik. Yaitu prosedur sederhana untuk mengukur detak jantung bayi ketika bergerak dalam kandungan. Profil biofisik menggabungkan USG dengan nonstress test untuk memberikan informasi lebih lanjut tentang pernapasan, nada, gerakan bayi dan volume cairan ketuban di dalam rahim Mama.

  

Pengobatan Preeklampsia

Jika indikasi preeklampsia sudah terdeteksi sejak dini pada usia kandungan masih terlalu muda, maka dokter akan merekomendasikan beberapa hal untuk mengatasinya. Berikut ini adalah beberapa di antaranya.

1. Pengobatan

  • Penurunan tekanan darah (antihipertensi). Pengobatan ini berfungsi untuk menurunkan tekanan darah. Meskipun banyak jenis obat antihipertensi, namun sebagian besar tidak aman dikonsumsi selama kehamilan. Konsultasikan dengan dokter untuk dosis yang aman bagi Mama dan janin.
  • Kortikosteroid. Pengobatan ini untuk sementara waktu dapat memperbaiki fungsi hati dan trombosit dan membantu memperpanjang usia kehamilan. Pengobatan ini juga dapat membantu pertumbuhan paru-paru janin.
  • Antikonvulsan. Jika preeklampsia sangat parah, dokter mungkin memberi resep obat antikonvulsan, seperti magnesium sulfat, untuk mencegah kejang-kejang. 

2. Rawat inap dan istirahat total

Jika preeklampsia yang dialami ibu hamil tergolong berat, kemungkinan dokter akan merekomendasikan rawat inap agar dokter dapat dengan mudah mengontrol kondisi ibu hamil, janin, dan kadar cairan amniotik. Kurangnya cairan amniotik merupakan tanda adanya masalah dengan suplai darah pada bayi.

3. Persalinan

Jika Mama didiagnosis dengan preeklamsia menjelang akhir masa kehamilan, dokter dapat segera merekomendasikan persalinan. Kesiapan leher rahim dan kondisi lainnya juga dapat menjadi faktor dalam menentukan kapan persalinan dapat dilakukan. Setelah melahirkan, biasanya tekanan darah ibu melahirkan akan kembali normal dalam beberapa minggu atau bahkan lebih cepat. Namun, Mama tetap harus berkonsultasi dengan dokter untuk pengobatan selanjutnya.

   

Pencegahan Preeklampsia

Terapi paling efektif bagi para ibu hamil yang mengalami preeklampsia adalah pencegahan. Berbagai strategi telah digunakan sebagai upaya untuk mencegah preeklamsia, termasuk:

1. Mengatur pola diet yang tepat

Salah satu usaha paling awal untuk mencegah preeklamsia adalah pembatasan asupan garam selama hamil. Menurut penelitian, wanita dengan diet rendah kalsium berisiko lebih kecil mengalami hipertensi selama kehamilan. Artinya, konsumsi suplemen kalsium selama kehamilan dapat menyebabkan penurunan tekanan darah serta mencegah preeklamsia.

2. Aspirin dosis rendah

Beberapa uji klinis menunjukkan bahwa pemberian aspirin dosis rendah sangat efektif untuk mencegah preeklamsia.

3. Antioksidan

Terapi antioksidan menurunkan aktivasi sel endotel dan sangat bermanfaat untuk mencegah preeklamsia.

4. Pemeriksaan antenatal

Pemeriksaan antenatal care (pemeriksaan kesehatan selama kehamilan) secara teratur dan cermat dapat mengenali tanda-tanda preeklamsia sedini mungkin, sehingga kemudian dapat diberikan pengobatan yang cukup agar tidak terjadi komplikasi yang lebih berat. Waspadalah selalu terhadap kemungkinan terjadinya preeklamsia dengan menjaga kesehatan kehamilan Mama.

 

Pernahkah Mama mengalami geja la-gejala Preeklampsia tersebut? Bagaimanakah cara mengatasinya? Yuk, bagikan kepada kami semua. 

(ROS)

Bagikan

Artikel Terkait