DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Persiapan Melahirkan | Jul 3, 2017

Water Birth, Metode Melahirkan dalam Air

Bagikan


Water birth atau proses melahirkan dalam air adalah salah satu jenis gentle birth, metode persalinan yang dilakukan dengan tenang, alami, dan minim rasa sakit. Water birth memang belum umum dilakukan, tapi bisa menjadi alternatif jika Mama ingin melakukan persalinan normal dengan rasa sakit yang ringan.

Baca juga: Hypnobirthing, Metode Melahirkan Tanpa Rasa Sakit

Di Australia dan Rusia, metode water birth sudah lama dikenal. Sementara itu, di Indonesia, water birth baru populer sekitar akhir tahun 2006. Beberapa selebriti Indonesia seperti Opie Andaresta, Wanda Hamidah, Sharena Gunawan, Natalie Margaretha, Dira Sugandi, dan Andien Aisyahpun memilih melahirkan anak-anak mereka dalam air. Metode melahirkan ini cukup mahal karena tidak semua tempat menyediakan fasilitas water birth. Biayanya rata-rata mirip operasi Caesar.

Water Birth Bisa Mengurangi Rasa Sakit saat Melahirkan

Lalu, bagaimana mungkin metode persalinan ini bisa jauh mengurangi rasa sakit? Hal ini bisa terjadi karena ibu direndam di air hangat, sehingga memberikan perasaan nyaman dan rileks. Salah satu tujuan water birth memang untuk mengurangi rasa sakit meskipun secara teknis proses ini tidak ada bedanya dengan melahirkan secara normal.

Beberapa orang juga percaya bahwa melahirkan di air juga bertujuan agar bayi tidak merasakan perbedaan suhu yang ekstrem. Sebab, air steril yang diisikan ke dalam kolam untuk melahirkan sudah diatur sesuai suhu tubuh, yaitu 36-37°C. Jadi, saat lahir, bayi tidak mengalami hipotermia.

Apakah bayi tidak tenggelam di air kolam saat lahir? Secara logika, saat di dalam kandungan, bayi hidup di air ketuban pada suhu yang hampir sama dengan tempatnya dilahirkan. Beberapa ibu percaya bahwa bayi 'berenang' dalam air ketuban saat di dalam kandungan. Jadi, secara naluriah tidak akan bermasalah meski bayi akan terendam sekitar 5-10 detik saat proses water birth. Bayipun merasa seolah-olah belum dilahirkan karena persamaan suhu di dalam dan di luar kandungan.

Water Birth Tidak Bisa Dilakukan Sembarangan

Meski kelihatannya sederhana, tidak semua ibu dapat melakukan proses ini. Ada syarat-syarat ketat yang wajib Mama penuhi jika ingin melakukan water birth. Ibu yang memiliki panggul kecil, bayi dalam posisi sungsang atau melintang, serta ibu yang sedang dalam perawatan medis tidak boleh melakukan water birth karena berisiko mengalami komplikasi yang membutuhkan bantuan medis segera. Ibu dengan penyakit herpes juga sangat dilarang melakukan water birth karena dikhawatirkan akan menularkan penyakit kepada bayi melalui air yang masuk ke mata dan anggota tubuh si kecil lainnya.

Water birth mungkin terlihat aman, namun sebenarnya tetap memiliki risiko bagi ibu dan bayi. Misalnya, ada kemungkinan bayi menelan air kolam, meski hal ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Selama air dalam kondisi steril, bayi tidak akan mengalami gangguan berarti. Risiko selanjutnya adalah hipotermia yang tetap akan terjadi meski air telah diatur pada suhu yang sama, jika proses melahirkan berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Tak perlu mencoba tren water birth jika belum yakin. Lakukan persalinan dengan cara yang Mama dan suami setujui. Namun, jika Mama telah siap melahirkan di air, carilah informasi sebanyak-banyaknya dari para ahli, terutama yang telah berpengalaman melakukan persalinan dalam air.

(AK/EMA)

Bagikan

Artikel Terkait